Senin, 19 Maret 2012

Remember you! -narutoff-

Jangan tinggalkan aku, cahaya hidupku!
Remember You!
By: fujogirl

Pairing : ~ SasuNaru (Slight) KakaIru ~
Rated : T menuju M ^3^
Naruto : 13 tahun
Sasuke,Gaara, Neji, Shika, Kiba : 15 tahun
Iruka : 22 tahun
Kakashi : 25 tahun

WARNING:
YAOI! ini adalah ceriya yaoi, okays?? Ini sudah kuperingatkan! bagi yang tak suka gak usah baca, dan gak usah komentar ga penting! OOC, AU, GAJENESS, TYPO(s) , alur kecepetan, humor garing, dll.

Rumah sakit, Kamar 201.
Hening, suasana hening, kenapa? Ada apa?

Flashback

Sasuke POV
"TEMEE~~ belikan aku ramen!" teriakkan yang menusuk telinga itu benar-benar menyakitkan telinga pemuda rambut pantat ayam (Ditendang sasuke) itu. Walaupun begitu, si rambut pantat ayam itu sangat suka teriakkan cempreng dari si Dobenya.
"Dobe, bisakah kau kecilkan sedikit volume suaramu?" 
"Uuuuh, dasar Teme!!"

Aku menarik Naruto kedalam pelukanku, entah kenapa aku senang sekali memeluk tubuh berkulit tan itu. Rasanya nyaman kalau berada di sampingnya.
"Te-Teme?" kulihat wajah nya dengan 6 garis di pipinya, begitu manis, dan dengan rona merah diwajahnya. Lindungi, itulah yang selalu ada di benakku ketika melihatnya.
"Sebentar saja, Dobe."

Hyuuunggg hyung
"Dobe kau kenapa?" kupegang badan Naruto yang semakin lama semakin panas.
"Badanku lemas... Teme.. Kurasa anemiaku kambuh lagi," Naruto melepaskan pelukkannya dari Sasuke. Naruto terlihat limbung, dan hampir terjatuh.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja, Dobe, aku akan membawamu ke rumah sakit," aku langsung menggendong Naruto dan melesat ke rumah sakit terdekat. Baru kali ini aku merasa sangat takut jika kehilangan hal yang berharga dalam hidupku. Matahari, cahaya dalam hidupku yang kelam.
.
.
.
"Dokter, ada apa dengan Naruto? Dia baik-baik saja?" tanya Sasuke bertubi-tubi, walaupun mencoba memperlihatkan wajah coolnya, tapi tetap saja terlihat kecemasan di wajah rambut pantat ayam itu. 
"Naruto terkena anemia dan demam," jelas Dokter. Sasuke sempat menarik napas lega.
"Tapi, mungkin ini kabar buruk," Sasuke terhentak mendengar perkataan Dokter, wajahnya kembali cemas dengan keadaan mentarinya itu.
"Demamnya terlalu tinggi, saya khawatir itu dapat merusak sebagian kerja otaknya."
Bagai kaca yang pecah berkeping-keping, kini Sasuke terlihat sangat rapuh...

Flashback off

Normal POV

Sasuke membelai rambut pirang milik Naruto. Dia sangatlah takut kehilangan mataharinya itu.  Tak dapat ia bayangkan jika ia tidak dapat melihat senyuman dari Naruto lagi. Sasuke melihat wajah Naruto yang merah, merah karena demam yang tinggi dan terlihat asap putih yang keluar dari napas Naruto yang tersenggal-senggal.

Brak
Sasuke berbalik, ia melihat Iruka dan Kakashi datang.
"Sasuke, apa yang terjadi pada naruto? Kenapa bisa begini?" Iruka mendekati ranjang Naruto dan mengelus pipi Naruto yang memerah. 
"Tiba-tiba ia merasa lemas, saat kubawa kesini, Dokter bilang dia terkena anemia dan demam tinggi," jelas Sasuke tak memalingkan wajahnya dari Naruto.
"Hm, Naruto memang sering terkena anemia, tapi tak sampai separah ini," Iruka yang selalu merawat Naruto tahu jelas Naruto punya penyakit anemia dan sering kambuh, wajahnya sangat khawatir. 
"Aku akan coba Tsunade membuat obat, kau jangan sedih Iruka," Kakashi memegang bahu Iruka yang sedikit bergetar.
.
.
.
"Sasuke, kau pulang saja, sudah berapa lama kau menunggu Naruto? Kau bisa sakit," Kakashi mulai membujuk Sasuke yang matanya mulai berkantung mata.
"Tidak, aku akan menunggunya sampai sadar," tentu saja sasuke yang keras kepala tidak akan mau mengalah.
"Ng..hh," tiba tiba terdengar suara erangan seseorang, dan orang itu Naruto.
"Naruto kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" Sasuke terlihat berseri-seri, ia memegang kening Naruto, demamnya mulai turun.
Sedangkan Naruto hanya menatap Sasuke.
"Siapa Naruto? Kau siapa? Dan aku siapa?" Naruto dengan wajah innocent nya yang tidak berdosa itu benar-benar membuat semua kaget. Apa yang terjadi??

TBC
.
.
.
maaf jelek! saya tau fic ini benar-benar gaje~ dan saya mohon kalau mau tinggalkan komen atau pun flame jangan pake otot, yang berguna dan membangun, arigatou!
.
.
.